Selasa, 25 Januari 2011

Sebab Mengapa Aku Tak Datang Hari Itu


sebab mengapa aku tak datang hari itu di saat kedatanganmu, bukan aku enggan menjemputmu

lajur membujur rel menghitung kemunculanmu seakan membuat kiraan mundur sorak cemas bahagia. aku tak bisa mengelak, tak juga dapat mundur. kau membawakan berkarung-karung cetita dari negeri asalmu. aku tak ingin kau menganggapku terlalu menaruh murah harga menemuiku. wajar bukan? meski karcis peron melambat naik tarifnya. namun tak begitu dengan ongkos bensin atau angkutan menuju stasiun terdekat.

sebab mengapa aku tak datang hari itu di saat kedatanganmu, bukan aku enggan menjemputmu

ada yang harus kupertimbangkan mengenai petak-petak perdebatan antara aku dan prasangka. aku harus berarung dengan banyak kepala. kata mereka tak ada untung menemuimu selain (b)untung itu sendiri. sejak aku mengenalmu tak banyak yang kukenal selain ketidaktahuanku. kau selalu asing dimataku namun aku suka. selalu suka.

sebab mengapa aku tak datang hari itu di saat kedatanganmu, bukan aku enggan menjemputmu

ada yang harus kuselesaikan. mungkin begitulah cerita kita yang tak pernah punya mula. karena aku telah salah dengan tidak menemuimu. dan kau kembali tanpa menoleh kepadaku. kau mengganti arah dengan burung bermesin melalui lorong-lorong dingin sebeku dinding pembatas dan hilang tanpa rimba di laju penumpang seperti tas troli yang lupa pemilik keasyikan dengan roda gelinding bagasi bandara.

sby, 26/01/2011

Jumat, 10 Desember 2010

apa yang sedang kita perbincangkan, dalam diam?

aku serasa menghirup asap pekat yang kau hembuskan dari nafasmu. terasa sigaret yang kau peluk dalam-dalam adalah luka yang kau peram. itukah beban yang ingin kau tinggalkan?

sementara hujan terus mengguyur tanpa putus di beranda kamarku. entah dingin apa yang kau bagi, mungkin sedingin percakapan kita yang sepertinya kehabisan suara ditelan sunyi yang tiada ampun menghajar kita dalam malam-malam kesendirian.

dan fajar hanya penghibur sesaat, karena kita terlanjur penat pada kelam yang terlanjur mendiami kerajaan-kerajaan angkuh kita.

entah apakah aku masih cukup sabar untuk jatuh dalam rengkuh alur menunggu? atau membiarkan kau basah sendirian dalam kealpaanmu

Selasa, 07 Desember 2010

Hujan di Satu Waktu

kepada kaca jendela berembun
masih saja terpantul raut wajahnya samar
ia terbaca pada alir rintik jarangjarang

kau paling tahu
rindu sesiapa kuperam diam-diam

Kita dan Sepasang Sandal

Kita adalah dua orang anak berlarian berselinthut pandang
Kau sembunyikan bakiak, sandalku
pada pucuk-pucuk dahan mahoni tua mati ranggas
Kemudian kau tipu aku. kau katakan beberapa gagak hitam membawanya lari, namun ternyata sandal itu kau pinjamkan kekasihmu

Kemudian apa yang tertinggal sekarang?
Kakiku luka, baunya membusuk, tak tahu lagi pembeda nanah dan daki.

Tak ada yang aneh dari sandal itu, selain ukiran nama dan beberapa penanda seonggok kenangan yang belum hilang.

Kita masih bisa mengamatinya dari kejauhan. Atau bila pun tak, kita akan berjalan berpisah melupakan, menggantikan sepasang sandal itu dengan yang baru

Kau dan Aku (Mungkin) Terlanjur Lupa

kau dan aku adalah tokoh cerita lucu dalam sengkarut
apakah otak kita tercerabut dari tempurungnya?
mungkin aku saja?

aku tak tahu lagi bagaimana cara menyapamu
sudah terlanjur lupa
"hai"
"hallo"
atau entah aku sama sekali benar-benar lupa

kita ini dua bocah yang saling mengejar punggung
kau dan aku sudah lupa
bagaimana mengeja kata
bagaimana memelihara kenangan

yah
kau dan aku mungkin terlanjur lupa

terpikir untuk melempar jendelamu dengan kerikil
berharap kau melongok ke bawah
memandangku

namun lagi-lagi
kita ini dua bocah yang saling mengejar punggung
kau dan aku sudah lupa
bagaimana mengeja kata
bagaimana memelihara kenangan

ketika kau memandang ke bawah,
aku sedang memungut bebatuan
kau dan aku mungkin sudah lupa cara menyapa

kau dan aku sudah lupa
bagaimana menandai masa
mungkin bisa kutemui di garis kepulanganmu?
: Juanda